Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

PERINDU MERINDU





Derap sepatu-sepatu mungil 

berbaur sorak sorai kegirangan

yang biasa menyapa halaman tanah berdebu

keni telah bisu


sapaan suara-suara khas

yang terbiasa mengawali hariku

hilang ...

menyisakan ruang tanpa nyawa


Tidakkah kau rindu ruang itu?

tempat kita mengadu dan beradu

Tidakkah kau rindu deretan bangku itu?

Tidakkah kau rindu canda tawa mereka?

atau pada senyum hangatku?

Walau kadang membeku.

Sudahlah, tidak usah dijawab

aku tahu

perindu pasti merindu.


Share:

14 Februari

Aku tahu ini hari apa

Meski ku akui ini cukup mengganggu

Otakku dibuatnya terus berputar

dan berputar

bak radio mencari saluran yang jernih

 

Untung saja, dan aku bersyukur,

kau tak menampakkan wajah berbeda

apalagi janggal

Mungkin saja kau juga tak peduli

seperti biasanya

Mungkin juga karena kita telah sepakat

membuat definisi kita sendiri

 

Ah memang gila

Selalu saja kita mengada-adakan yang mengada-ada

Tapi …

benar juga, kenapa harus menyempitkan hari ini,

hanya dengan coklat dan bunga

 

Oh Sayang,

Untung saja kita telah sepakat

Tahun ini tak ada coklat/bunga

Hanya kecupan tulus saat nanti kau

sudah tidur

Besok juga kau tahu aku melakukan itu.  


Nusa Penida, 14 Februari 2021


Share:

ANAKKU



 

ANAKKU

 

Anakku, 
Tawamu menyejukkan
Girangmu menggetarkan
Tangismu menghangatkan
Seisi pojok pondok kita
Anakku,
Terima kasih telah hadir 

Dari rahim bundamu, istriku.


Nusa Penida, 21 Mei 2021

Share:

HANYA SOAL WAKTU

Ibu, 
Sudahlah jangan risau
Apalah gunanya engkau galau
Bila engkau dengar kodok mengigau 
Atau lolongan anjing yang parau
Takdirnya memang begitu
Bukankah kita hidup di desa

Ayah,
Tak perlu menyendiri
Apalagi memasukkan ke hati
Jangan biarkan mereka menari
Menari ketika melihat kita berlari
Mengapa takut pada anak anjing?
Toh suaranya saja yang melengking
Bak anjing tua yang tak mampu menggigit

Kemarilah, akan kubisikkan sesuatu
Kalian tenang sajalah
Ini tak lebih dari soal waktu
Juga pilihan lika dan liku
Toh semua ditentukan Yang Maha Tahu
Bila yakin ini barang tentu
Lalu kenapa harus ragu? 

Bila sudah waktunya
Tak ada yang bisa mengganggu
Tak juga kau atau aku apalagi mereka
Yakinlah, aku akan bersatu dalam biduk perahu bersamanya
Karena ini hanya soal waktu. 

Oleh: I.W.S. Gunada
(Nusa Penida, 26 Juni 2020; 24.00)

Share:

SAHABAT LAUTKU

Riak tawamu menyapaku
Kala senja menjemput siangku
Seakan meledek
Seakan mengejek

Termenung, ku terduduk di atas hamparan pasir
Menatap wajahnya dengan tatapan getir
Ia tampak tertawa kecil dengan wajah berseri
Sial oh sial...
Ternyata...
Hanyalah bayang-bayang kenangan

Dulu, 
Dulu kau tak seberani ini
Dulu bahkan kau sahabat sejati
Yang selalu menjembatani
Kini kau jadi pembenci
Kau menghalangi
Bahkan kau tak mau kompromi

Sahabatku, 
Berbaik hatilah padaku
Walau ku tahu aku tak punya daya tawar
Hanyalah daya minta mampuku
Jelas kau tahu itu
Tapi,
Aku benar-benar rindu
Rindu pada senyum dan tatapannya yang syahdu,
Tolong antarkan aku menyebrang
Tolong berbaik hatilah sahabatku, lautku.

Oleh: I.W.S. Gunada
(Nusa Penida, 27 Juni 2020; 17.36 WITA)

Share:

Popular Posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Ad Code

Responsive Advertisement

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Labels