Aku Harus Belajar dari Muridku!

Hasil gambar untuk digital native vs digital immigrant



Manusia dibagi ke dalam beberapa generasi seperti Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu Generasi Z. Generasi sekarang, manusia yang lahir dari 1995 hingga sekarang, termasuk ke dalam Gen Z. Generasi ini tentu berbeda dari generasi sebelum-sebelumnya. Gen Z memiliki karakter-karakter unik yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi terutama  internet. Sebagai generasi yang lahir di jaman teknologi yang sudah berkembang pesat, adalah hal yang biasa dari sejak balita mereka sudah bisa mengoperasikan HP (Smart phone). Dibandingkan dengan Gen Y (millennial), dimana merupakan generasi yang setengah-setengah dalam artian setengah menikmati era sebelum ada internet dan setengah setelahnya, Gen Z adalah digital native.  

Kenyataan ini sudah tentu berimplikasi pada dunia pendidikan, terutama bagaimana pendidik  sebaiknya bertindak dalam era digital ini sehingga tetap bisa diterima oleh anak didiknya (Gen Z). Jawabannya tegas: siap berubah. Pendidik harus siap dan sigap beradaptasi serta fleksibel dengan dinamika-dinamika yang ada termasuk siap belajar. Pendidik harus siap belajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan siswanya. Guru harus siap mengajar dengan cara-cara yang diinginkan oleh siswanya. Sudah kadaluarsa bila ada pendidik yang menganggap dirinya sebagai pemegang otoritas absolut tanpa menghiraukan jeritan-jeritan siswanya tentang bagaimana pembelajaran harusnya dilakukan. Gen Z merupakan generasi yang akan bergembira dan antusias bila guru memutarkan video daripada disuruh untuk membaca buku. Itu disebabkan karena mereka menyukai media belajar audio visual. Hal-hal seperti ini yang harus diperhatikan oleh para pendidik Gen Z. 

Bila ada pendidik bertanya (semoga tidak), "Bagaimana saya harus mengoperasikan alat-alat yang begitu asing bagi saya?" Jawabannya, BELAJARLAH DARI MURIDMU TENTANG HAL-HAL TEKNIS SEPERTI ITU dan idenya tetap dari anda!


Singaraja, 08 Mei 2018
SG
       

Share:

Definite Article: The



Saksikan video berikut ini untuk mengetahui tentang Definite Article "The". Jangan lupa klik Like, Comment, dan Subscribe!
Share:

PERJUANGAN “GURU RUPAKA”

Pic. taken from: https://www.vebma.com/



Guru Rupaka” dalam istilah Agama Hindu adalah orang tua yang terdiri atas ayah dan ibu. Mereka adalah orang yang melahirkan serta merawat kita selama bertumbuh dan berkembang dari anak-anak hingga dewasa dan akhirnya siap untuk hidup mandiri. Dan tentu saja mereka tetap akan memperhatikan kita selama mereka masih hidup.
Demikian pula halnya dengan orang tua ku yang telah melahirkan dan merawat hingga aku remaja seperti sekarang. Jujur saja orang tua ku bukanlah orang kaya dan bukan pula miskin dalam artian sempit. Ya dari perspektif harta benda. Mereka miskin uang dan harta benda tetapi sangat kaya akan kasih sayang dan senantiasa berjuang demi anak-anaknya. Memberikan nasihat bukan berarti harus marah. Aku masih begitu terngiang ketika dahulu waktu aku kecil petuah-petuah yang lembut diberikan kepada ku. Mereka tidak pernah marah kecuali kalau memang aku terlalu nakal (maklumlah masih kecil). Biasanya, kalau pas sedang dijalan mau pulang ke gubuk dari lancong ke rumah tetangga atau kakek dari Ibu ku, pasti akan ada evaluasi atas tindakan-tindakan ku yang kurang terpuji selama berada dirumah yang kami kunjungi agar selanjutnya tidak terulang kembali. Begitu detail evaluasinya.
Disamping itu, perjuangan mereka demi anaknya juga luar biasa. Meskipun mereka tidak kaya, tetapi mereka tetap memperhatikan perkembangan masyarakat. Ketika anak-anak seangkatan saya bisa bersepeda, merekapun berjuang agar bisa membelikan saya sepeda. Meskipun baru bisa tercapai ketika aku hampir lulus SD dan teman-teman sebayaku sudah dari kelas 1 SD bahkan sudah membawa sepeda ke sekolah. Ketika, teman-teman ku waktu SMP sudah memegang dan lancar bermain HP, orang tua ku juga tidak diam. Beliau berpikir untuk membelikanku meskipun baru terwujud ketika aku sudah SMA yang kebetulan di pulau seberang. Sehingga, sekaligus untuk mempermudah komunikasi saya pun dibelikan HP. Tak hanya itu, beliaupun akhirnya berusaha dan mampu membelikanku sepeda motor setelah 2 tahun masa SMA aku harus menyusuri jalanan perkotaan untuk menuju dan pulang dari sekolah.
Terima kasih Beli/Mbok (Ayah/Ibu). Perjuangan mu untuk ku, anakmu, luar biasa. Izinkan agar tetap ingat dan bersyukur memiliki orang tua seperti Beli dan Mbok


Singaraja, 11 Januari 2018 
Share:

Pentingkah Kesejahteraan Seorang Guru?


Seorang guru yang ingin saya bicarakan dalam hal ini adalah beliau yang mengajar dan mendidik kita di sekolah-sekolah formal baik negeri maupun swasta. Tidak bisa kita pungkiri dan sudah merupakan fakta bahwa dari kegigihan beliaulah kita bisa memiliki kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung untuk selanjutnya menjadi penghubung kita untuk bisa mempelajari hal-hal yang lebih kompleks. Bahkan dalam mempelajari materi-materi lanjutanpun peran seorang guru tidak bisa diabaikan. Disamping itu, seorang guru juga sangat memiliki peran penting dalam menanamkan karakter-karakter yang adi luhung. Karakter-karakter tersebut seperti kejujuran, suka menolong/empati, tepo seliro, dll. 
Bertolak dari hal tersebut, maka apabila terdapat beberapa orang siswa yang ter-ekspose memiliki kemampuan yang kurang atau bahkan tidak bisa membaca, menulis, atau menghitung maka pihak/orang yang melintas pertama kali dikepala kita adalah seorang guru yang gagal. Apabila terdapat oknum siswa yang berlaku kurang beradab atau bahkan biadab maka guru juga menjadi pihak yang kepadanya kita tumpukan kegagalan pendidikan karakter. Sehingga, apabila memang demikian, maka tugas dan tanggung jawab moral seorang guru sangatlah besar dan vital. Dan apabila tugas serta tanggungjawabnya besar dan vital, sudahkah pemerintah memperhatikan profesi seorang guru terutama terkait kesejahteraannya?
Kita mungkin sepakat bahwa pemerintah sudah berupaya keras untuk menyejahterakan guru melalui kebijakan-kebijakan tertentu. Namun sudahkah pemerintah mencoba untuk melirik bagaimana guru di negara-negara maju yang begitu mengutamakan sektor pendidikan diperlakukan? 
Kesejahteraan seorang guru adalah sangat penting. Ini disebabkan karena ketika penghasilannya cukup baik (sejahtera), beliau bisa fokus untuk melaksanakan kewajibannya dalam mengajar dan mendidik sehingga terwujudnya kecerdasan anak bangsa. Waktu yang beliau gunakan untuk melakukan usaha-usaha sambilan karena tuntutan ekonomi (gaji sebagai guru tidak mencukupi) bisa dimaksimalkan untuk belajar, berexperimen, berinovasi dalam rangka memberikan kualitas pendidikan terbaik kepada para siswa. Bukan hanya itu, beliau juga memiliki cukup waktu untuk berinteraksi lebih banyak dengan parasiswa diluar jam sekolah seraya menanamkan nilai-nilai karakter bangsa kita yang adi luhung tersebut. Beliau tidak lagi panik karena diburu oleh tetangga yang menagih utang. Beliau juga bisa bangga melihat anak-anak didiknya yang berhasil menjadi siswa yang berprestasi atas bimbingan maksimal yang diberikan. Jika sudah seperti itu, maka terwujudnya generasi-generasi muda yang cerdas secara intelektual, social, dan spiritual bukanlah hal yang mustahil.
Bagaimana menurut kalian? Pentingkah kesejahteraan seorang guru? 
            

Share:

Surat untukmu, Kakak!

Secara tiba-tiba ketika sedang mencuci pakaian, mengingat kuliah jam ij kl tidak jadi dilaksanakan, pikiran saya melayang ke Desa Bakas, Desa dimana saya dan 17 orang teman-teman dari berbagai jurusan di Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA) ber-Kuliah Kerja Nyata. Satu demi satu peristiwa yang kami lewati bersama dan figur-figur muncul di kepala sementara tangan tetap tegar mengayunkan sikat cucian. Muncul expresi serius Pak Mekel yang sejatinya menyembunyikan sifat humoris beliau. Muncul Pak Sekdes, yang begitu kentara menahan air mata saat kami perpisahan. Ibu Agung Anom, yang begitu hangat dan humoris, terima kasih senampan kopi dan jajan Balinya yang sesungguhnya kami garap berempat pas dekorasi perpisahan (hahaha). Pak De Ucung, yang selalu muncul dengan joke-joke-nya yang hangat (semoga belum melahirkan ya Pak). Pak Mur (Mr. Bagleg) yang begitu perhatian menengok kami ke posko, membelikan baby corn meskipun kami minta jagung bakar (wkwkwk), yang selalu siap jadi tempat penampungan kunjungan saya dan beberapa teman-teman (salam hormat untuk Ibu ya Pak). Wajah-wajah dan expresi warm and friendly dari mbo Erna, Mbo Kadek, Ibu Dayu, Bli Tut Sila silih berganti menari dalam pikiran saya. Terima kasih atas kehangatan yang Bapak/Ibu, Bli/Mbok berikan hingga saya masih merasakan kehangatan itu hingga kini.
Tak terasa, potongan baju terakhir selesai saya sikat. Saya pun bergegas membilas dan bersiap untuk ke jemuran. Namun apalah dayaku yang hanya manusia biasa yang masih belum mampu mengendalikan perasaan. Derap langkah dan teriakan-teriakan kecil adik-adik kami di rumah cerdas kembali bergaung disela-sela suara kibasan pakaian yang saya jemur. Senyum-senyum kegirangan mereka serasa begitu nyata didepan mata. Akupun teringat saat pertemuan formal kami di rumah cerdas, mereka membuat surat untuk kami. Ada beberapa yang secara khusus diberikan untukku.
Adik-adikku, izinkan kakak untuk mengabadikan coretan tangan tulus kalian pada halaman ini. Kakak takut, tulisan-tulisan yang mewakili hati kalian saat itu (semoga tetap sama sampai sekarang) digerus derasnya lembar-lembar tugas kuliah kakak yang semakin tanpa ampun. Berikut surat dari adik-adik yang masih kakak simpan.


  
Dari: Esti
I am so happy to meet you
When you teach me, when we laugh together.
When we do everything
Thank you so much
Let me express my gratitude to you
Thank you for your appreciation
You are quite cool and so wonderful
I hope you will be better in your future.


Dari: Ni Putu Eka Lastia Anjani
Kak Sastra,
Terima kasih untuk semuanya. Kak Sastra sangat baik sekali. Kak Sastra, aku sayang Kak Sastra. Terima kasih untuk belajar membaca. Kak Sastra sangat sabar, tidak pernah marah. Kalau aku nakal Kak tidak pernah marah. Aku sangat sayang Kak Sastra. Aku cinta Kak Sastra. Terima kasih Kak Sastra.


Dari: Sanela
Untuk Kak Sastra
Saya berterima kasih kepada Kak Sastra yang telah mengajar saya agar bisa belajar Bahasa Inggris. Mungkin saya belum bisa belajar Bahasa Inggris tapi saya akan belajar Bahasa Inggris seterusnya agar bisa seperti Kak Sastra. Sekian kesan saya kepada Kak Sastra dari Sanela. I love you Kak Sastra.


Dari: Ni Kadek Dwi Cahyanti
Untuk Kak Sastra,
Saya sangat senang karena Kak Sastra itu baik dan ganteng.


Dari: I Wayan Gede Mus Artawan
Untuk Kak Sastra terima kasih Kak Sastra telah mengajar kami dan mengajar membaca dan menghitung dan bercerita dan Bahasa Bali. Terima kasih kak Sastra telah mengajar kami sampai pintar.


Dari: Ni Komang Indah Septi Ani
Untuk Kak Sastra saya sangat senang belajar bersama Kak Sastra.


Dari: Ica
Aku suka sama Kak Sastra karena Kakak Ganteng


Dari: Lisna
Saya senang belajar di Rumah Cerdas karena Kak Sastra ganteng.

Terima kasih adik-adikku, KAKAK MENCINTAIMU. Sampai bertemu dilain kesempatan. Semoga kita mejadi orang sukses dan tentunya berguna untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

[Ku tulis ini dalam suasana yang haru. Tidak usah dimaafkan kalau ternyata isinya kurang menyentuh, karena concern saya adalah mengarsipkan surat dari adik-adikku, bukan untuk membuat senang orang lain]





Share:

Kawan! Aku Rindu Desa

Ku intip waktu di desktop laptopku. Ah, ternyata baru pukul 22.18 WITA. Waktu masih belum terlalu malam meski serial Mahabrata barangkali sudah bersambung. Akan tetapi, kok dunia berubah begini sunyi? Ku langkahkan kaki dan perlahan kuputar gagang pintu kamarku. Benar! aku sudah di kota.  Tapi, kenapa harus sepi? Bukankah kota seharusnya ramai? Seharusnya selalu hidup? Sebentar ku tenangkan diri kawan. Ku tengok kanan dan kiri dan akhirnya kebingunganku terjawab. Aku sendiri!
Kawan, waktu sekian minggu ku lewati bersamamu bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal yang ingin ku ulang bersamamu. (Kamu mau ngulang apa bersamaku?) Banyak hal kawan. Apa kamu sudah siap mendengarkan ku? Yowis, lepas dulu headsetmu biar ndak ada yang kelewatan. Aku ingin bercerita panjang lebar. Kawan, aku rindu desa. Desa dimana dulu kita hidup bersama bak gerombolan bebek. Tapi intinya bukan itu. Aku rindu teriakanmu yang memekakkan telingaku waktu subuh. Kenapa? Karena sekarang aku ndak ada yang ngurus kawan. Tadi saja aku bangun jam 08.00 dan baru bangkit dari tempat tidur jam 09.00. Lumayan kan dapat waktu satu jam baca perkembangan politik tanah air yang carut marut. Yang sudah tidak lagi memikirkan harga diri. Dimana plin plan itu sudah biasa yang penting popularitas diri dan partai meningkat. Sudahlah!
Kawan, kamu tahu nggak? Disini aku sudah meninggalkan kebiasaan kita dulu. Kebiasaan minum kopi atau sekadar teh manis di pagi hari. Disini aku sudah tidak bisa lagi dapat gratis. Jujur, aku ingin kembali ke desa. Kamu pasti masih ingat kan, setiap kita ke rumah Pak Mekel, Pak/Bu Kaur kita pasti dapat kopi/teh manis gratis. Dan syukurnya, itu kopi dan teh pasti ndak berani keluar sendirian. Andai saja kamu bisa membaca pikiranku kawan. Kamu juga pasti tahu tujuanku mengajakmu lancong-lancong bukan hanya biar akrab, tapi biar dapat kopi. Tetapi kalau ke Pak Sekdes, kita pasti dapat Pulpy Orange, Ha..ha..ha. Gimana kalau ke Bu Anomnya? Pasti dapat yang lebih manis lagi, lumayan kan? Begitu kawan. Kamu harus tahu, hidup di masa ini gampang-gampang susah. Kamu harus bisa mencontoh elite kita yang diatas, yang selalu punya maksud lain yang gamblang atau terselubung ketika melakukan tindakan. Tapi mksudku bukan mengajari kamu membawa banyak agenda. Tapi cuma mengingatkan biar kamu ndak melupakan mereka kawan. Mereka yang tulus pantas mendapatkan balasan yang tulus. Jangan sesekali membalas air susu dengan air tuba, kecuali kamu mau ngeracun ikan bolehlah make air tuba.
Sebenarnya masih banyak yang ingin kusampaikan pada mu Kawan, tapi ini waktu sudah larut. Tarik selimut ahhhh….   

Share:

Pak Ahok, Ajarkan Saya

Kami akan mengajukan banding Yang Mulia …”

Masih terbayang suasana ketika menonton sidang vonis terhadapmu beberapa waktu lalu, Pak. Sekitar pukul 12.30 WITA, bersama teman-teman saya menonton detik-detik yang menegangkan tersebut walaupun saya harus berangkat ke Kuta dan mesti tiba disana sebelum pukul 16.00 WITA. Seketika saya lemas ketika Majelis Hakim menyatakan Bapak bersalah karena telah menodai agama dan dihukum selama 2 tahun. Saya hampir tidak percaya mengingat pidato Bapak di Kepulauan Seribu yang menjerumuskan Bapak ke kursi pesakitan tersebut mencuat beberapa hari setelah kejadian. Menurut saya, apabila tidak ada alasan-alasan atau motif-motif dari pihak-pihak tertentu yang ingin menjegal Bapak, Bapak tidak akan sampai pada ujung drama ini dan kemudian harus mendekam di penjara selama 2 tahun. Mengapa demikian? Apabila memang Bapak dianggap menodai agama tertentu, pasti masyarakat ditempat Bapak berpidato sudah melempari Bapak sandal atau sepatu atau apalah. Akan tetapi faktanya tidak demikian kan Pak? Jujur, saya bangga kepada Bapak yang begitu tegar dan secara disiplin mengikuti proses persidangan demi persidangan. Bapak tidak mencari-cari alasan untuk bisa mangkir dari persidangan seperti beberapa politikus pertontonkan (Oh ya, maaf saya lupa. Bapak saya anggap seorang negarawan bukan politikus) yang meskipun banyak kalangan menganggap Bapak tidak melakukan seperti yang didakwakan jaksa. Namun, saya akhirnya sedikit lega ketika Bapak menyatakan banding atas vonis yang diputus majelis hakim. Karena saya ingin melihat karakter-karakter mereka yang menjadi utusan tuhan untuk memberikan keadilan di republik ini. Saya ingin melihat mereka mendapatkan promosi setelah berhasil dengan gagah berani memutus perkaramu dengan hukuman yang bahkan lebih berat.   
Beberapa hari setelah vonis tersebut yang berbarengan dengan aksi-aksi simpati diberbagai penjuru wilayah Indonesia bahkan sampai di luar negeri, saya menunggu berita terkait penangguhan penahanan Bapak. Namun nihil. Justru yang membuat saya terkejut dan bertanya-tanya adalah keputusan Bapak yang justru membatalkan banding? Ada apa Pak? Saya bahkan melongo ketika Ibu Vero sesenggukan membacakan surat tulisan tangan Bapak. Bapak masih Bisa mengatakan,
 “… Saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini jika untuk kebaikan kita dalam berbangsa dan bernegara. Alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi akibat adanya unjuk rasa yang mengganggu lalu lintas tidaklah tepat saling unjuk rasa dan demo dalam proses yang saya alami saat ini. Saya khawatir banyak pihak yang akan menunggangi jika para relawan unjuk rasa apalagi benturan dengan pihak lawan yang tidak suka dengan perjuangan kita …”.
Seberapa tebal lapisan yang melindungi hatimu sehingga membaja begitu kuat Pak dan tak pernah sakit hati? Bagaimana Bapak tetap memperhatikan kepentingan warga DKI (rakyat banyak) sementara mereka yang bernafsu menjatuhkanmu begitu mementingkan diri sendiri dan kroni-kroninya? Tolong ajarkan saya bertahan untuk bisa tegar sepertimu Pak. Ajarkan saya Pak. Akan tetapi, cukup ajarkan saya untuk bisa bertahan ketika pacar saya lagi ngambek karena MASALAH NEGARA INI TERLAU RUET DAN RUMIT untuk level saya yang masih buta percaturan politik Indonesia yang buas ini.

God Bless You  

Share:

Popular Posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Ad Code

Responsive Advertisement

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Labels